• Waka Humas
  • Waka Sarpras
  • Welcome
  • kepala Madrasah
  • Kepala Tata Usaha
  • Waka Bid. Akademik
  • Waka Bid. Kesiswaan
  • MEMASUKI ZONA INTEGR

Ahlan Wasahlan di Website MADRASAH ALIYAH NEGERI 3 KOTA PADANG Plus Keterampilan - Siap mendukung Pembangunan Zona Integritas Untuk Mewujudkan Wilayah Bebas Korupsi (WBK) & Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM)

Pencarian

Kontak Kami


MADRASAH ALIYAH NEGERI 3 KOTA PADANG Plus Keterampilan

NPSN : 10263743

Jl.Bandes Balai Gadang Kec. Koto Tangah Kota Padang


man3kotapadang@kemenag.go.id

TLP : 081372151348


          

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda mengenai web sekolah kami ?
Sangat bagus
Bagus
Kurang Bagus
  Lihat

Statistik


Total Hits : 435856
Pengunjung : 147713
Hari ini : 10
Hits hari ini : 46
Member Online : 1
IP : 216.73.217.5
Proxy : -
Browser : Gecko Mozilla

Status Member

KEMBALI SETELAH DUNIA BERUBAH BENTUK




Alzam Chairul, seorang pemuda yang sering dipanggil dengan nama “Al”, baru saja
lulus dari universitas ternama, dia tinggal hanya berdua dengan ibunya, seluruh biaya
hidupnya ia tanggung sendiri walaupun terkadang sang ibu juga sedikit membantunya,
padahal Al sudah mengatakan kalau ibu tidak perlu bekerja lagi, Al sudah mulai bisa
menanggung bebannya sendiri dengan usahanya bekerja paruh waktu. Sekarang Al berumur
24 tahun, ambisinya sangat besar. Hidup baginya adalah tentang kesuksesan, pencapaian, dan
kesenangan. Al tumbuh di lingkungan yang memberikan lebih banyak perhatian pada dunia
daripada akhirat, sehingga ia terbiasa menganggap ibadah sebagai sesuatu yang sekunder.
Setelah lulus kuliah, Al banyak membuat surat lamaran kerja, dia tidak lelah untuk
kesana- kemari di berbagai Perusahaan, baik di dalam maupun luar kota. Sudah berkali- kali
dia mengirim surat lamaran, akhirnya barulah ada sebuah
e-mail yang masuk dari handphonenya, yang mengatakan bahwa dia diterima disebuah Perusahaan yang besar, sayangnya ini
adalah Perusahaan yang sangat jauh dari kota tempat tinggalnya. Al merasa campur aduk,
apakah dia harus menerima pekerjaan ini dan meninggalkan ibu seorang diri, atau tetap
bersama ibu dan bekerja paruh waktu saja.
Sepulang ibu dari melaksanakan shalat magrib dari masjid depan rumah mereka, Al
mendekati ibu, dia berkata . “Al harus gimana bu?, Al bingung banget, kalau Al pergi, ibu siapa
yang rawat?”. Kata Al dengan penuh khawatir kepada ibunya.
"Nak, kalau misalnya ini memang hal yang terbaik untuk kamu, ibu izinkan kamu pergi,
ibu masih bisa kok rawat diri sendiri, masih bisa jalan, masak makanan, bersih bersih
rumahpun ibu masih kuat, tapi kalau Al masih bingung coba kamu shalat istikharah, mana tahu
diberi petunjuk yang terbaik dari Allah". Ibu menjelaskan dengan penuh perhatian kepada Al.
"Sudahlah bu, nggak shalat istikharah juga, aku sendiri tahu apa yang mau aku perbuat, nggak
ada guna bu shalat- shalat begituan, ya udah gini aja, aku pergi duluan kerja kesana, nanti
kalau uang aku udah banyak, janji deh jemput ibu, ibu tenang aja". Al menjawab agak kesal,
karna ia tidak suka disangkut- pautkan dengan agama.

"Astaghfirullah, nak nggak boleh ngomong seperti itu, semua urusan kamu dilancarkan itu
karena Allah, ibu selalu mendo'akan kamu semoga kamu selalu menjadi anak yang sholeh,
shalatlah nak, mau sampai kapan kamu begini terus?". Ucap sang ibu
"Aku ada urusan bu, aku pergi dulu". Al akhirnya pergi keluar entah kemana, selalu saja begitu,
setiap ibu mulai menceramahinya agar senantiasa berdo'a dan beribadah kepada Allah Al
selalu menghindar.
Akhirnya Al menerima pekerjaan yang jauh di pulau seberang tersebut dan
meninggalkan sang ibu, meskipun hanya seorang karyawan biasa, Al merasa itu adalah
langkah pertama menuju kesuksesannya. Ia bekerja keras dan lambat laun mulai
mendapatkan perhatian dari para atasannya. Namun, Al sangat jarang melaksanakan shalat,
dan seringkali lupa dengan kewajiban utamanya itu.
Dalam suatu rapat, atasannya, Pak Hendro, menyanjung Al.
"Al, laporan kamu sangat rapi dan analisisnya tajam. Saya suka. Kamu punya potensi besar di
perusahaan ini". Puji pak hendro
"Terima kasih, Pak. Saya hanya berusaha sebaik mungkin”. Jawab Al dengan tersenyum puas
Dengan dedikasi dan keahliannya dalam menyelesaikan berbagai masalah, Al mulai
mendapat promosi. Posisi dan gajinya naik dengan cepat. Kesuksesannya ini menjadikannya
semakin percaya diri, tetapi juga semakin jauh dari nilai-nilai agama. Dan ada satu hal lagi yang
ia lupakan yaitu ibunya, ibu sering menelepon, tapi seringkali Al mematikan telepon dan
menolak panggilan dari ibunya, satu kali ia mengangkat telepon dari ibunya.
"apaan sih bu? telepon terus, tahu nggak Al sekarang lagi sibuk banget, bisa nggak sih sehari
aja nggak nelepon? berisik tahu nggak?". kalimat yang pertama kali Al katakan saat
mengangkat telepon ibunya.
"Ibu minta maaf. Al, kapan kamu mau jemput ibu? ini udah 5 tahun lebih, rasanya ibu mulai
nggak sanggup sendirian, ibu kesepian disini. Ibu menjawab dengan suara yang lemah dan
terdengar suara batuk ibu yang sangat parah.
" Ibu bisa sabar nggak? ini juga Al lagi usahain bu, tunggu aja". Tanpa menunggu jawaban dari
ibu, Al langsung saja mematikan teleponnya.

Kehidupan sosial Al perlahan berubah. Teman-teman barunya berasal dari kalangan
eksekutif muda yang gemar bersenang-senang. Mereka sering mengajaknya keluar untuk
bersenang-senang di tempat mewah.
"Al, coba minum ini, sekali-sekali nggak masalah. Kamu nggak mau kelihatan kaku, kan?". ajak
Reza, teman baru Al.
"Ehm... aku nggak biasa minum". Al menjawab agak ragu
"Ayolah, nggak ada yang tahu. Nikmati hidup ini, Bro. Kamu udah kerja keras, sekarang
waktunya bersenang-senang". Reza dengan penuh paksaan mengajak Al.
Awalnya, Al hanya duduk dan memperhatikan, tetapi lambat laun ia tergiur. Ia mulai
minum bersama teman-temannya. Tak lama, ia pun terjerumus dalam perjudian kelas atas,
dikenal dengan istilah
high stakes gambling , di mana taruhannya mencapai ratusan juta
rupiah. Kehidupannya yang dulu sederhana kini berubah drastis.
"Al, kamu udah jago mainnya. Ayo naik taruhan, kita lihat sejauh mana keberuntungan kamu".
Ucap salah satu teman judi Al.
"Ah, ya... coba deh, kita naikkan". Al dengan tawa terpaksa
Semakin lama, Al mulai kehilangan kendali. Ia menyalahgunakan jabatannya untuk
menutupi kekurangan uang akibat judi. Ia mulai korupsi, mengambil uang perusahaan untuk
menutupi kerugian pribadinya. Semua tampak baik-baik saja di permukaan, tetapi kenyataan
itu hanya sementara. Korupsi yang dilakukan Al lambat laun terungkap. Perusahaan yang ia
banggakan mulai runtuh. Kepercayaan para pemegang saham hilang, dan para karyawan
mulai resah.
Rekan kerja berbisik ke karyawan lain, "Eh, kamu denger nggak? Katanya Al lagi diselidiki.
Keuangan perusahaan mulai kacau".
Karyawan lainnya berucap,"Iya, aku dengar juga. Parah, ya? Padahal dulu dia orang
kepercayaan Pak Hendro".

Di tengah- tengah kebingungan Al dengan apa yang harus ia lakukan setelah ketahuan
korupsi uang perusahaan, ada salah satu temannya yang memberi saran untuk pergi ke dukun.
Alih-alih memperbaiki kesalahannya dengan bekerja lebih keras, Al malah mengambil jalan
pintas yang temannya beritahu itu. Ia mencari bantuan dukun untuk mengembalikan
kejayaannya
"Tolong, saya butuh bantuan. Saya harus mempertahankan posisi saya, apa pun caranya".
Ucap Al kepada dukun.
"Jangan khawatir. Kamu sudah datang ke tempat yang tepat. Tapi ingat, semua ada bayarnya".
Si dukun tersenyum licik.
Al percaya bahwa kekuatan supranatural bisa memperbaiki segalanya. Tetapi semakin
dalam ia terlibat dengan praktek-praktek mistis itu, semakin buruk kondisinya. Perusahaan
akhirnya benar-benar bangkrut. Semua yang telah Al bangun selama ini hancur berkepingkeping. Tidak hanya kehilangan pekerjaannya, Al juga kehilangan jati diri dan kehormatan. Ia
hampir gila, hidupnya serasa tak ada tujuan lagi. Di waktu- waktu seperti ini Al teringat kepada
ibunya, ketika ia ingin menghubungi ibunya, muncul notifikasi panggilan dari orang lain yang
tidak Al kenal, karena hanya tertera nomor telepon, ia mengangkat telepon itu agak ragu.
"Assalamu'alaikum Al, ini mbak siti tetangga sebelah". Ucap seseorang yang ada di seberang
sana.
" Waalaikumsalam, ada perlu apa ya mbak?, kalau mau pinjem uang, Al lagi nggak ada uang
mbak". Al agak kesal, karena biasanya nomor tidak dikenal yang ada di teleponnya adalah
tetangga yang rata- rata ingin meminjam uang.
"Nggak, mbak nggak lagi butuh uang, ada kabar buruk, ibu kamu udah nggak ada, selama ini
ibu kamu sakit- sakitan nggak ada yang perhatiin, kamu sibuk kerja terus.
Seakan tersambar petir, hati Al hancur berkeping- keping, sosok ibu yang selalu
menemaninya dari kecil sekarang telah tiada, dalam pikiran Al, dia harus pulang ke kota
asalnya dengan cara apapun, ia meminjam uang temannya kesana- kemari. Setelah uangnya
cukup, ia langsung memesan tiket pesawat hari itu juga.

Setelah sampai di bandara dan naik taksi untuk kerumahnya, tibalah Al di simpang
gang rumahnya,dia turun dari mobil taksi dan berlari tergesa- gesa dengan linangan air mata,
bak air terjun yang deras tak pernah berhenti. Al sudah melihat rumahnya, ada banyak orang
di sana.
" IBU...". Teriak Al histeris.
"Ayo nak, kita shalatkan dulu ibu mu, kamu mau jadi imam? ". Ucap salah satu tetangga.
" Saya nggak bisa shalat bu". Al, Tidak ikut menyolatkan ibunya, dan semua urusan
pemakaman sudah selesai.
Esoknya pada jam siang hari, sekitar waktu Dzuhur, Al sedang mencari makan karena
ia memang belum makan dari kemarin, tapi banyak warung sedang di tutup, mungkin karna
jam shalat. dalam keadaan putus asa, Al tidak sengaja melihat sekelompok anak kecil berjalan
dengan mengenakan kain sarung menuju sebuah masjid. Al memperhatikan anak-anak itu dari
kejauhan, ada sesuatu yang membuat hatinya tersentuh. Salah seorang anak melihat Al dan
dengan tersenyum, ia mengajak Al untuk ikut bersamanya.
"Om, mau ikut ke masjid? Yuk!". Salah satu anak kecil di sana mengajak
"Apa? Masjid? Ah, nggak... Om ada urusan". Al agak terkejut
"Nggak apa- apa, Om. Masjidnya dekat kok". Ucap si anak kecil dengan tersenyum tulus
Tanpa berpikir panjang, Al mengikuti anak-anak tersebut. Anak-anak itu menuju masjid. Al
ragu-ragu untuk masuk, tetapi seorang marbot masjid menyapa dengan ramah.
"Assalamu'alaikum, Nak. Mau shalat di sini? Silakan". Marbot dengan tersenyum
ramah
"Wa’alaikumussalam… Ehm, iya, Pak… boleh?". Al dengan sedikit ragu
"Tentu saja, masjid ini untuk semua orang. Ayo masuk" Ajak marbot masjid dengan senang.
Al mulai curhat dan bercerita kepada marbot masjid itu, sang marbot membacakan sebuah
surat yaitu surat Al-Insyirah, yang artinya:
"Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan
ada kemudahan". (QS. Al-Insyirah: 6-7)

Sang marbot mulai berbicara dengan lembut namun tegas kepada Al. Ia mengingatkan
bahwa Allah Maha Pengampun dan selalu menerima hamba-Nya yang mau bertaubat.
"Nak, semua orang pernah salah. Allah itu Maha Pengampun. Jangan pernah ragu untuk
kembali kepada-Nya". Marbot meyakinkan Al .
"Tapi, saya sudah terlalu jauh, Pak. Saya... saya nggak tahu harus bagaimana". Al menangis
dengan tersedu- sedu.
"Yang penting, mulailah dengan niat yang tulus. Lakukan shalat tobat, minta ampunan dengan
sungguh-sungguh. Setelah itu, mari kita perbaiki shalat wajibmu".
Al merasa malu dan tak berdaya. Sang marbot kemudian mengajarkan Al untuk
melakukan shalat tobat dan memulai rutinitas shalat fardhu.
"Baca niatnya begini, Nak. Dan saat sujud, berdoalah dengan hati yang benar-benar berserah".
Sang marbot mengajarkan dengan sabar.
Perlahan-lahan, hidup Al mulai berubah. Meski masih ada rasa penyesalan, ia mulai
merasakan ketenangan dalam hatinya, Walau terkadang tetangga banyak yang membicarakan
dirinya dengan hal-hal yang buruk, seperti "masa anak pulang rantau pulang nggak bawa apaapa", "ih... dengar- dengar dia pakai dukun ya?", dan kalimat lain yang membuat hati Al sakit.
Walaupun begitu marbot membimbingnya untuk memperbaiki hidup dan menjauh dari
semua keburukan yang pernah ia lakukan.
Alzam Chairul kini menjadi seorang yang berbeda. Ia bukan lagi pemuda yang sibuk
mengejar kesenangan duniawi semata. Meski tidak bisa mengembalikan apa yang telah
hilang, ia memilih untuk berjalan di jalan yang benar. Setiap langkah yang ia tempuh kini
dilandasi niat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Perusahaan yang ia bangun dulu mungkin
telah hancur, tetapi hati dan jiwanya kini mulai dibangun kembali, lebih kuat dari sebelumnya.




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :





   Kembali ke Atas